Banyak Toko Kosong Bukti Singapura Bukan Lagi Surga Belanja?

Banyak tempat kosong di Takashimaya department store, Orchard Road, Singapura | The Japan Times

Banyak tempat kosong di Takashimaya department store, Orchard Road, Singapura | The Japan Times

Singapura – Angpao888.com: Lemahnya ekonomi lokal dan turunnya minat belanja turis dalam lima tahun terakhir merupakan pukulan telak bagi Singapura.

Selain faktor eksternal seperti perlambatan ekonomi China dan minimnya hasrat belanja turis asing, faktor internal juga ikut berperan memengaruhi terpuruknya sektor ritel dan pusat belanja Singapura.

Di sisi lain, ruang komersial mengalami peningkatan sebesar 10 persen pada periode tersebut, tetapi tingkat kekosongan meningkat menjadi 7,3 persen dari sebelumnya 5 persen. Para analis industri ritel kemudian memprediksi hal itu akan terus meningkat.

Reputasi Singapura sebagai surga belanja dengan investasi 7,25 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau lebih dari Rp 100 triliun mulai menurun.

Permasalahan seperti pembatasan pekerjaan, mata uang yang kuat, minat belanja pariwisata lemah, dan kecenderungan warga Singapura berbelanja di mal-mal lebih murah daripada di luar negeri, merupakan tantangan bagi pelaku properti terutama sektor ritel di Singapura.

Kondisi tersebut kemudian membuat banyak kasir punya waktu luang bermain game di outlet mereka. Bahkan akibat sepinya mal tersebut beberapa pegawai toko bisa bermain mini golf di sepanjang koridor. Ada 13 dari 16 unit lantai 5 sebuah pusat perbelanjaan di Orchard Road yang mengalami kekosongan.

Sementara di daerah pinggiran kota sisi barat Singapura, lebih dari dua per tiga dari pusat perbelanjaan bawah tanah yang telah dibuka selama hampir dua tahun, kosong.

Akibatnya, pertumbuhan upah pekerja di Singapura diperkirakan bakal melambat 2,5 sampai 3 persen pada 2016 bila dibandingkan dengan rata-rata selama 10 tahun terakhir yang menyentuh angka 3,6 persen.

Itu semua menandakan bahwa analisa yang menyebutkan, jika ekonomi domestik Negeri Singa akan tetap kuat, permintaan dari 5,5 juta penduduknya juga tetap kuat, dan pengunjung ritel dari China, India, dan Asia Tenggara tetap meningkat itu, salah besar.

Kenaikan suku bunga yang dipicu oleh kenaikan tarif US Federal Reserve pada Desember 2015 juga telah menahan pengeluaran domestik.

Bagi Singapura, hal tersebut bukanlah masalah sepele. Grosir dan perdagangan ritel dengan usaha manufakturnya merupakan kontributor terbesar pendapatan produk domestik bruto (PDB) dan juga menjadi salah satu lapangan kerja terbesar di sana.

Tetapi lesunya ekonomi global telah menjadi rem bagi sektor belanja orang Singapura, terutama pekerja dari sektor ekspor yang paling terpukul.

Sementara itu, pembeli dari luar negeri menghabiskan tujuh persen lebih sedikit dalam sembilan bulan pertama 2015 daripada yang mereka lakukan ketika periode sama pada 2014.

Banyak harapan kemudian disematkan pada event tahunan “The Great Singapore Sale.” Kalender acara itu akan dimulai pada Jumat (10/6/2016) dan berlangsung selama 10 minggu pada tahun ini. (th)

Related News

Dibaca 6631 kali

Leave a Reply

Notify of
avatar

wpDiscuz
Read previous post:
Lampu Meja dari kayu | Lampu Runa
Unik dan Menarik Desain Lampu Meja Dari Kayu dan Pipa Gas

Lampu meja kehadirannya tidak hanya sekedar menjadi penerang ruangan, selain...

Close